Tampilkan postingan dengan label Kisah fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2016

Nunu



 NUNU

 Pagi itu pagi yang cerah. Matahari menampakkan sinarnya yang terang. Sangat berbeda dengan hari kemarin yang mendung dan sesekali diiringi dengan turunnya hujan yang sangat deras. Semua orang sangat senang dihari itu, terlebih lagi dengan para ibu rumah tangga karena mereka dapat mengeringkan pakaian keluarga mereka yang sedari kemarin basah dan tidak kering. Tapi hal lain dirasakan oleh seorang gadis kecil nan mungil dengan rambutnya yang ikal. Nunu namanya. Gadis kecil yang baru berumur 4 tahun itu selalu terlihat ceria selalu mengajukan pertanyaan kepada siapa saja, tapi tidak untuk hari ini. Hari ini ia terlihat sangat murung dengan bibirnya yang agak dimanyunkan ke depan. Ia terus saja menatap ke halaman depan. Orang-orang yang berada di rumah melihatnya dengan penuh keheranan, termasuk si kakak. Kakak perempuannya yang cantik jelita dengan khimar dan jilbab yang menjadi ciri khasnya.

“Nu, kamu kenapa? Nggak seperti biasanya. Biasanya cerewet minta ampun. Kamu sakit yahh?” tanya sang kakak yang agak sedikit khawatir dengan sikap Nunu yang tidak seperti biasanya. Sebenarnya si kakak rindu dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan sang adik mungilnya itu.

“Nunu nggak sakit kok kak. Nunu Sehat. Cuman, Nunu mau jalan-jalan keluar mumpung nggak hujan. Tapi kakak sama Bunda sibuk ngurusin pakaian yang dijemur itu.” Keluh Nunu.

Mendengar jawaban Nunu, sang kakak hanya tersenyum sambil mengelus kepala adik kesayangannya itu. “Jadi kamu mau jalan-jalan keluar? Hmm, Kakak ada rapat nih di masjid kamu mau ikut nggak?” tawar sang kakak sambil beranjak meninggalkan Nunu menuju kamar.

“Bener nih kak? Nunu boleh ikut?”

“Ia. Sudah ganti baju sana. Kakak juga baru mau siap-siap. Takut telat.”

“Yeeaayyyyy, Horeee.!!” Teriak Nunu dengan gembira sambil berlari kecil menuju kamarnya.

***

“Nu, kamu sudah selesai?” tanya kakak yang telah siap berangkat dengan pakaian kebesarannya. Uppss, maksudnya jilbabnya yang longgar dan khimarnya yang panjang. Juga kaos kakinya yang selalu melekat ketika hendak keluar dari rumah. Kata kakak, kaki juga termasuk aurat jadi harus ditutup.

“Ia kak, Nunu sudah siap.!” Jawab Nunu dengan sedikit agak berteriak sambil berlari keluar dari kamarnya. Ia makin cantik dan imut dengan jilbab yang melekat di tubuh mungilnya. Ia memang sudah diajarkan oleh kakaknya untuk mengenakan jilbab. Dan Bunda juga nge-dukung mereka untuk berjilbab. Pemahaman kakak terkait perbedaan makna antara jilbab dan kerudung itu ia dapatkan dalam organisasi di sekolahnya. Kalau tidak salah nama organisasinya Rohis. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian si kakak setelah melihat Nunu.

“Kerudung kamu mana?” tanya kakak

“Kan panas kak, gak usah pake kerudung yahh kakk. Sekali inniiiii saja.” Pinta Nunu yang agak sedikit memohon.

Seperti biasa, sang kakak tersenyum dan mengelus kepala Nunu. Mungkin ini jurus jitu kakak supaya Nunu patuh. Hehehe. “Adikku yang manis. Perintah memakai khimar atau kerudung itu wajib. Kalau tidak dilaksanakan yahh dapat dosa. Jadi tidak peduli mau panas, mau dingin, mau hujan, kerudung tetap harus dipakai. Kan diluar banyak yang bukan mahram kita.”

“Tapi kak, diluar itu panaaasss bangett.”

“Nah maka dari itu. Dengan kerudung yang kita pakai, kita dapat terlindungi dari sinar matahari yang siap membakar kulit kita. Katanya siap mau jadi anak yang shaleha?”

Mendengar jawaban sang kakak, Nunu segera bergegas mengambil kerudungnya yang berada di dalam kamar. Lalu mereka berdua pergi ke tempat yang mereka tuju setelah pamit sama Bunda.

***

Di tengah perjalanan Nunu melihat pemandangan yang mengundang sejuta tanya dalam hatinya yang siap ia lontarkan kepada kakaknya. Para pengamen jalanan.

“Kak mereka ngapain di pinggir jalan? sambil bawa adiknya pula? Kan bahaya, mereka bisa ditabrak sama pengendara. Ibunya kemana kak? Kok tega membiarkan anak-anaknya di pinggir jalan? Ayahnya mana kak? Mereka nggak takut ya kalau nanti anak-anak mereka diculik? Apa orang tua mereka gak takut sama azab Allah ya kak? Mereka kan diberi anak untuk dijaga bukan untuk ditelantarkan?” berbagai pertanyaan Nunu mengalir begitu saja tanpa memberi jeda untuk sang kakak memberikan jawaban atas setiap pertanyaannya

Sang kakak yang sudah tahu kebiasaan Nunu hanya dapat diam mendengarkan semua pertanyaan Nunu hingga Nunu berhenti dan menunggu jawabannya. “Mereka itu lagi cari uang untuk makan. Mereka bekerja dengan cara seperti itu. Menyanyi dengan alat musik seadanya lalu setelah itu ia akan diberi uang oleh para pengendara. Ya, memang sangat berbahaya berada dipinggir jalan. Mereka bisa saja tertabrak kalau tidak hati-hati atau kalau ada pengendara yang ngebut. Kebanyakan dari mereka sudah tidak mempunyai orang tua jadi mereka berusaha untuk mencari uang sendiri.”

Belum selesai kakak menjelaskan, Nunu kembali meluncurkan pertanyaannya “Kemana Nenek mereka kak? Kakek? Paman? Bibi? Apa mereka juga tidak menyayangi anak kecil itu? Kan kasihan kak, mereka seharusnya tidak perlu mencari uang. Tugas mereka kan harus belajar. Yang mencari uang itu tugas orang dewasa.” tanyanya dengan mengutip beberapa kalimat yang ia pernah dengar dari pembicaraan kakak dengan bunda.

“Entahlah. Kakak pun tidak terlalu tahu dik. Beginilah memang pemandangan yang akan sering kita lihat ketika sistem yang digunakan adalah sistem demokrasi. Sistem yang dibuat oleh manusia. Sangat berbeda ketika sistem yang digunakan adalah sistem Islam. Sistem yang dibuat oleh Pencipta kita.”

“Memangnya apa yang akan terjadi kalau sistem Islam yang diterapkan kak? Bukannya sama saja ya kak antara sistem demokrasi dengan sistem islam? Keduanya kan sama-sama dibuat untuk mengatur kita?” . Jangan heran. Nunu memang baru berumur 4 tahun. Tapi cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa. Mungkin karena seringnya berdiskusi dengan kakak.

“Kalau sistem islam yang diterapkan, anak-anak yang seperti mereka akan dicari tahu siapa keluarga mereka. Kalau keluarga mereka tidak mampu untuk menghidupi mereka maka dicarilah kerabat mereka. Apabila kerabat mereka juga tidak mampu maka akan dititipkan ke tetangganya. Dan jika tetangganya juga tidak mampu untuk menghidupi anak tersebut maka kebutuhan anak tersebut akan ditanggung oleh negara. Anak-anak seperti mereka akan mendapatkan zakat.” Jelas sang kakak.

“ Jadi keluarga mereka bagaimana kak? Mereka kan juga tidak mampu. Apa mereka tidak sekalian saja ditanggung kebutuhannya oleh negara? Juga kerabat dan tetangganya?”

“Tidak mampu yang kakak maksud disini adalah mereka tidak mampu menghidupi kehidupan si anak yang tadi. Mereka hanya bisa menghidupi kehidupan mereka sendiri. Kalau pun ada seorang kepala keluarga yang tidak mampu untuk menghidupi keluarganya lantaran dia tidak mendapatkan sebuah pekerjaan dan ia masih terlihat kuat dan muda, maka tugas negara adalah memberikannya sebuah pekerjaan agar si bapak ini dapat melaksanakan kewajibannya sebagai kepala keluarga yaitu mencukupi kebutuhan keluarganya.”

Masih banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan Nunu. Hal yang seperti inilah yang Nunu suka terhadap kakaknya. Apabila ia bertanya, si kakak selalu saja mampu menjawabnya. Tapi diskusi mereka segera berakhir ketika mereka telah sampai ke tempat yang mereka tuju. Yang disana telah tampak beberapa teman kakak yang berpakaian sama dengan mereka. Ya, dengan pakaian kebesaran mereka.

***

New Year



NEW YEAR

“Tidak terasa yah, sekarang udah bulan Desember lagi. Bentar lagi kita akan memasuki tahun yang baru, tahun 2016. Yeeeeaaahh.” Ucap Kinta dengan gembira yang membuyarkan lamunan Sinta, kakak kembarnya.

Kinta dan Sinta adalah anak kembar dari keluarga yang terpandang. Apa yang mereka inginkan selalu dipenuhi oleh orang tuanya. Tetapi walaupun mereka kembar, mereka memiliki karakter yang berbeda. Sinta yang sebagai kakak memiliki sifat yang mandiri dan orangnya seriusan. Berbeda dengan adiknya, Kinta. Kinta memiliki sifat yang manja dan tidak suka dengan hal-hal yang serius, ia lebih suka dengan candaan alias humor. Setiap pekerjaan rumahnya selalu meminta bantuan kakaknya. Seingat Sinta, tidak ada satupun pekerjaan rumah yang diselesaikan sendiri oleh Kinta. Tapi walaupun seperti itu, Sinta tetap menyayangi adiknya.

“Iya, bentar lagi kita akan memasuki tahun baru. Tapi kakak mau pesan sama Kinta.” Ucap Sinta sambil tetap menatap indahnya langit malam.

“Pesan? Kakak ini ngigau yah? Kinta kan bukan pelayan. Kalau mau pesan yah sama pelayan. Bukan sama Kinta. Hahaha.” Kebiasaan Kinta, menghadirkan humor ketika suasana mulai tampak serius.

“Huufftt.” Sinta mendengus. Ia sudah sangat mengenal betul sifat adiknya yang tak suka dengan sesuatu yang serius, kata Kinta kalau sesuatu yang serius dalam dunia nyata itu lebih menyeramkan dari film-film horor. *yaiyalah.

“Gini, tahun-tahun kemarinkan kita ngerayain tuh yang namanya malam tahun baru. Untuk tahun ini sampai tahun seterusnya, kakak minta supaya keluarga kita tidak perlu merayakan lagi malam tahun baru.” Jelasnya.

“Kenapa? Bukannya kakak juga merasa senang waktu malam tahun baru kemarin?? Kok sekarang malah melarang merayakan malam tahun baru sih kak?” Kini jidat Kinta berkerut. Baru kali ini Sinta melihat wajah serius adiknya.

“Sebaiknya kalau kita ingin merayakan suatu hal, kita harus menyelidikinya terlebih dahulu. Kita ini kan muslim. Hari raya untuk kaum muslim itu hanya dua yaitu saat Idul Adha dan Idul Fitri kalau perayaan yang lain kita perlu melihat sejarah awal mula adanya perayaan tersebut.”

“Emangnya sejarah perayaan tahun baru itu bagaimana kak?” Kinta semakin penasaran. Ia sudah terbiasa dengn perubahan pemikiran kakaknya. Sesuatu yang sering dilakukannya bersama berubah menjadi sesuatu ia benci. Wajar saja, sekarang Sinta bergabung dengan organisasi Islam, ROHIS. Jadi, suatu hal yang wajar kalau sedikit-sedikit harus liat dulu bagaimana pandangan Islam terhadap apa yang akan dilakukannya. Apalagi sekarang Sinta menjadi ketuanya. Tentunya Sinta harus lebih hati-hati dalam bersikap agar dapat menjadi tauladan yang baik bagi anggota-anggotanya.

Seketika itu juga Sinta membuka iPhone nya dan mulai mencari artikel yang membahas tentang sejarah perayaan tahun baru masehi. Dan setelah dapat, ia segera memperlihatkannya kepada Kinta. Kinta sangat serius membacanya. Isinya itu seperti ini:

***

Sejak Abad ke-7 SM bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.

Pada tahun 45 SM Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian. Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli).

Sementara penerus Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M. Pada saat itu muncul Kalender Gregorian.

Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.

Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan konsul diadakan, karena semua aktivitas umumnya diliburkan. Di bulan Februari, konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu, tahun baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.

Orang Romawi merayakan tahun baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.

Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristiani. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.

Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.

Bagi orang Kristiani yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

***

“Hal itu sudah kakak tanyakan ke ustadzahnya kakak. Dan beliau mengatakan kalau kita ini sebagai umat muslim tidak boleh mengikuti orang-orang yang non muslim. Dalam hadits riwayat Abu Daud dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: man tasyabbahu bi qaumin fa huwa minhum yang artinya barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. Kan kita sudah tahu kalau perayaan tahun baru itu adalah kebiasaan kaum non muslim. Dan tidak ada dalil yang mengatakan kalau kita harus merayakannya tetapi yang ada adalah larangan untuk menyerupai. Makanya tadi kakak pesan sama adik supaya kita tidak usah merayakan tahun baru untuk tahun ini dan untuk seterusnya.” Jelas Sinta.

Kinta merenungi kata-kata yang baru saja keluar dari mulut kakak kembarnya itu. Kinta terkesima mendengarnya. “Kak…” wajahnya kini menunduk di hadapan kakaknya.

“Kamu kenapa, dik?” Sinta menghampiri Kinta sambil mengelus punggung hingga kepala adiknya dan mulai duduk di sampingnya.

“Ajari Kinta untuk mengenal Islam, kak.” Kinta menatap mata Sinta tanda ia sangat serius dengan ucapannya.

“Masyaa Allah.” Gumam Sinta dalam hatinya. “Iya, dik. Kakak pasti akan mengajari Kinta. Kakak sayang sama Kinta. Kakak sayang sama Mama dan Papa. Kakak ingin di akhirat nanti kita semua dikumpulkan ke dalam surgaNya.” Ucap Sinta sambil memeluk Kinta.

Air mata mereka kini membasahi kain kerudung yang mereka pakai. Dan semoga air mata mereka akan menjadi saksi di akhirat nanti serta akan menjadi syafaat bagi mereka. Aamiin.

Hijrah



HIJRAH

Ita terdiam melihat kumpulan cewek yang berada di depan rumahnya. Semua cewek-cewek di sana sangat berbeda dengan kebanyakan cewek yang sering dijumpai Ita dalam kehidupannya.  Dari segi pakaian mereka sudah terlihat perbedaannya dengan cewek-cewek yang lain. Mereka selalu memakai pakaian yang sering dipakai ibu-ibu majelis ta’lim. Ya, mereka memakai baju terusan atau yang biasa disebut oleh kebanyakan masyarakat dengan sebutan gamis. Terbesit di hati Ita untuk memakai pakaian yang seperti mereka kenakan. Bertingkah anggun nan santun. Ita sangat terpukau dengan mereka. Ita membayangkan kalau dirinya juga seperti mereka. Ita melamun. Tapi apakah mungkin sosok seperti Ita bisa hijrah menjadi seperti mereka?
Ita adalah sosok wanita yang punya pergaulan yang bebas. Ita punya banyak teman lelaki. Mereka juga sering berkunjung ke rumah Ita dan Ita pun demikian, suka berkunjung ke rumah mereka. Mereka adalah teman-teman band Ita. Ya, Ita adalah seorang vokalis salah satu band yang cukup terkenal di daerah mereka. Genre musik yang sering ia bawakan adalah rock. Bisa kebayangkan penampilan Ita saat ini? Ita bergaya seperti laki-laki. Tapi hanya pada pakaian dan sikapnya yang menyerupai laki-laki. Selebihnya, ia tetap menunjukkan kepada publik bahwa ia adalah sosok perempuan. Ibu sering melarangnya untuk bergaul dengan mereka. Ibu ingin Ita menjadi sosok seperti yang ada di hadapannya sekarang. Sosok muslimah yang punya sikap anggun.
Lamunan Ita menjadi buyar ketika terdengar suara yang memanggilnya dari lantai dasar. Dari suaranya, Ita bisa mengetahui kalau dia adalah Ibu. “Itaaa…”
“Iya, Ma. Tunggu sebentar.”
“Tolong antar Mama. Mama ada pengajian di masjid.”
“Tunggu.”
Itu adalah salah satu cara Ibu untuk membawa Ita meninggalkan dunianya yang penuh dengan kegelapan dan beralih ke dunia yang diinginkan oleh Ibunya.
“Lahh, kenapa kamu pake baju kayak gini? Ganti cepat. Gayamu seperti preman. Ini pasti karena pergaulanmu dengan mereka. Pokoknya Mama minta supaya kamu berhenti berhubungan dengan mereka. Sudah pergi sana, pakai pakaian yang sopan. Pakai kerudung kamu. Anak gadis kok gayanya seperti laki-laki.”
Ita yang lagi tidak ingin berdebat membuatnya patuh terhadap apa yang dikatakan oleh Ibunya. Ia segera mengganti pakaian yang ia kenakan dengan pakaian yang dibelikan oleh Ibu sekitar dua minggu yang lalu. Baju lengan panjang, rok, dan kerudung yang terjulur hingga menutupi dadanya.
Setelah berganti pakaian, Ita segera mengantar Ibunya ke masjid tempat Ibu biasa mengikuti pengajian. Hanya mengantar. Ketika sampai ke tempat yang dituju, Ita akan segera kembali ke rumah dan kembali mengenakan pakaian yang mirip preman itu. Tapi untuk hari ini, Ibu menginginkan Ita untuk menunggunya di masjid. Ibu tidak menginginkan Ita untuk pulang dan menunggunya di rumah.
Ita hanya mengeluh kesal. Ia benar-benar menunggu Ibunya. Tapi bukan di dalam masjid melainkan ia hanya menunggu di bawah pohon yang cukup lebat yang berada di depan masjid. Dan di sana, Ita kembali melihat orang-orang yang ia lihat di depan rumahnya.
“Assalamu’alaikum.” Sapa salah seorang dari mereka. Dia adalah orang yang tinggal di depan rumah Ita, Nadia. Sisanya merupakan teman Nadia yang sering berkunjung.
“Ehh, Wa’alaikumsalam.” Jawab Ita. Ita merasa sedikit kaget karena ia tidak akan mengira bahwa ia akan disapa oleh mereka.
“Kenapa tidak masuk, Ta?”
“Nggak ahh. Saya cuman disuruh nungguin Mama yang lagi ikut pengajian di dalam.”
“Kan nunggunya bisa di dalam. Kalau kamu malu sini dehh, biar Nadia temenin. Nadia dan teman-teman yang lain juga ingin ikut pengajian.”
“Kalian mau ikut pengajian? Itukan pengajian Ibu-ibu?”
“Emangnya anak muda seperti kita ini dilarang untuk menuntut ilmu agama yah? Ilmu agama juga untuk anak-anak seperti kita juga kok. Bahkan ilmu agama itu wajib untuk dituntut oleh setiap tingkatan usia.” Bujuk Nadia.
Ita yang sudah kehilangan alasan akhirnya menurut dengan apa yang Nadia katakan. Jantung Ita berdetak begitu cepat. Ini adalah pertama kalinya Ita menginjakkan kakinya ke dalam masjid setelah Ita berumur 10 tahun.
Ita melihat wajah Ibunya yang tersenyum melihatnya mengikuti pengajian hari itu. Ita hanya menunduk sambil mengikuti Nadia dan teman-temannya dimana mereka akan duduk mendengarkan ceramah dari seorang ustadzah. Dan kebetulan, tema yang ustadzah angkat adalah “KELUARGA PEJUANG AGAMA ALLAH”. Itu dilihat Ita dari spanduk yang terpajang dengan nyata di salah satu sisi tembok masjid.
Ita begitu serius mendengarkan ceramah yang ustadzah bawakan. Menurutnya, mengikuti pengajian-pengajian yang seperti itu tidak terlalu membosankan. Sebab, bahasa yang ustadzah pakai sesekali bahasa remaja. Dan materi yang ustadzah sampaikan juga mudah untuk dimengerti.
“Lain kali kamu temani Mama lagi yahh untuk pergi ke pengajian.”
Kalimat itu bukan seperti pertanyaan yang meminta pendapat dan persetujuan Ita tetapi itu lebih mengarah ke sebuah kalimat yang mengandung unsur perintah di dalamnya. Jadi, mau-tidak mau Ita harus tetap ikut.
Setelah beberapa kali mengikuti pengajian di masjid yang sama dan menimbang-nimbang keputusan yang akan Ita ambil, akhirnya ia mengambil sebuah keputusan. Ia menginginkan untuk segera hijrah menjadi seperti mereka yang sering ia lihat di balik jendela yang menjurus ke arah salah satu rumah yang berada di depan rumahnya. Hijrah? Kata itu Ita copas dari ceramah ustadzah. Walaupun ustadzah tersebut tidak menjelaskan pengertian hijrah secara gamblang dalam ceramahnya, tetapi Ita bisa mengetahuinya arti dan makna kata hijrah itu sendiri melalui kisah-kisah yang sering diceritakan oleh ustadzah. Dan yang ia dapatkan adalah, hijrah merupakan perpindahan seseorang ke arah yang lebih baik.
Ita sudah bertekad untuk meninggalkan dunia musiknya. Tetapi ia enggan untuk memberitahukan niatnya itu ke Ibunya. Ia takut kalau hijrah yang ia lakukan itu tidak bisa bertahan lama dan akan hilang ketika rasa bosan menghampirinya, seperti rasa bosan yang ia rasakan terhadap dirinya yang sebagai seorang vokalis band. Dan langkah yang ia ambil adalah menabung uang pribadinya untuk membeli pakaian seperti yang dikenakan oleh Nadia dan kawan-kawannya. Disamping ia sibuk menabung, ia juga sibuk mengikuti kajian rutin seperti yang diikuti oleh Nadia. Nadia memperkenalkan Ita kepada salah seorang ustadzah yang diperkirakan mampu mengubah Ita. Siapa yang meminta? Ita sendirilah yang meminta kepada Nadia untuk dicarikan seseorang yang mampu membimbingnya ke arah yang benar.
Setelah dua bulan berlalu, uang yang dikumpulkan oleh Ita sudah cukup banyak. setidaknya cukuplah membeli 2 gamis yang syar’i. Tekad Ita untuk hijrah menjadi seorang muslimah juga semakin kuat. Dan pada hari ini, Ita memutuskan untuk benar-benar hijrah. “Ya Allah ku memakai pakaian ini bukan karena yang lain. Melainkan karena ini adalah perintah dariMu yang tertuang dalam QS Al-Ahzab:59 dan QS An-Nur:31.” Ucap Ita dalam hatinya saat hendak memakai gamis dan kerudungnya untuk yang pertama kalinya.
Selain pakaian yang ia beli sendiri dari hasil menabungnya selama dua bulan, ia juga mendapatkan hadiah dari teman-teman dan ustadzahnya yang berupa gamis dan kerudung. Ibu yang melihat perubahan yang terjadi pada anaknya, Ita, merasa haru dan bahagia.
Kini Ita berjalan di jalan dakwah yang penuh tantangan dan rintangan. Cemoohan dari kawan-kawannya yang dulu tidak membuat Ita patah semangat atau malah mundur dari perjuangan yang mulia tersebut.
Teringat kembali potret suram kehidupan Ita di masa lalu. Ia bersimpuh menangis dalam sujudnya. Ia kembali teringat dengan salah satu ceramah yang disampaikan ustadzah waktu dulu. “Man jadda wa jada”. “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil”.